“Isin Aku, Mas!” Ketua Komisi C DPRD Pati Malu Lihat Trotoar Panglima Sudirman Lebih Jelek dari Sebelumnya

Kondisi Proyek Trotoar jalan P.Sudirman Pati Saat di sidak Ketua Komisi C 

Pati,suakaindonesia.com – Proyek rehabilitasi trotoar di sepanjang Jalan Panglima Sudirman, pusat Kota Pati, yang digadang-gadang akan mengubah kawasan protokol menjadi modern, aman, dan mirip pedestrian Malioboro, justru menuai kritik tajam. Alih-alih menambah kenyamanan, pengerjaan sejak pertengahan 2026 dinilai memperburuk kualitas, keamanan, dan estetika trotoar.

Proyek ini merupakan sinergi Pemerintah Kabupaten Pati dan Kementerian Pekerjaan Umum. Tahap pembongkaran dilakukan DPUTR Pati dengan anggaran Rp140 juta (Mei–Agustus 2026). Konstruksi fisik dilanjutkan pihak pusat dengan pagu Rp14 miliar dan target tujuh bulan. Tujuannya menciptakan jalur pedestrian aman, ramah disabilitas, tertata rapi, serta mempercantik visual kota.

Namun realitas di lapangan berbeda. Pejalan kaki dan pedagang mengeluhkan permukaan tidak rata, sambungan material buruk, serta tampilan buram. “Dulu trotoarnya sudah bagus, sekarang malah lebih jelek. Banyak yang bergelombang, paving tidak rata, warnanya tidak menyatu. Lebih berbahaya, apalagi buat lansia,” ujar seorang warga yang sehari-hari melintas.

Janji desain mirip Malioboro juga belum terwujud. Beberapa titik masih gersang, material dinilai kurang berkualitas, dan elemen estetika minim. Akibatnya kawasan protokol justru terlihat semrawut.

Kritik warga sejalan dengan perhatian DPRD Kabupaten Pati. Ketua Komisi C, Joni Kurnianto, sebelumnya menekankan pentingnya fungsionalitas sekaligus keindahan agar tata ruang kota memberi kesan positif.

Selasa (6/10/2026), Joni bersama anggota Komisi C melakukan inspeksi mendadak (sidak). Saat diwawancarai, ia tak menyembunyikan rasa malu. “Isin aku, Mas,” ujarnya tegas.

Menurut Joni, keluhan masyarakat sudah berdatangan lama lewat WhatsApp. “Kami sudah dari dulu merasa ini lebih parah daripada yang lama. Aduan masuk terus, bilang trotoarnya miring-miring dan tambah jelek. Setelah rapat dengan teman-teman komisi yang juga terima laporan sama, kami langsung sidak,” jelasnya.

Dalam sidak, hadir perwakilan Dinas PU, Widyo. Joni mempertanyakan cetak biru proyek. “Ternyata tidak ada. Padahal mestinya ada supaya tahu material yang dipakai. Ini kelihatannya bekas, seperti didaur ulang,” katanya.

Ia juga memanggil pengawas dari pusat. “Menurut Pak Widyo, anggarannya Rp14 miliar dari pusat. Tapi kan tetap di kota kita. Bangunan lama yang dibongkar justru lebih bagus,” tegasnya.

Soal klaim “Malioboronya Pati”, Joni Kurnianto langsung membantah. “Waduh, kejauhan. Masih kejauhan. Gimana pantas disebut Malioboro-nya Pati?”

Ia menambahkan, masa pengerjaan belum selesai meski Oktober 2026 hampir berakhir. “Kami akan tanya pelaksana proyek soal rancangan awal, kenapa pakai paving block, dan kenapa bagian disabilitas ada yang retak. Berapa persen kerusakannya, kami belum tahu,” pungkasnya.

Warga berharap hasil sidak segera ditindaklanjuti dengan evaluasi dan perbaikan menyeluruh. Mereka menuntut kualitas material, kerataan permukaan, dan estetika benar-benar diperhatikan, bukan sekadar mengejar target waktu.

Jika tidak dibenahi, proyek yang mestinya jadi kebanggaan pusat Kota Pati berpotensi menjadi contoh infrastruktur “asal jadi”. Masyarakat menanti langkah konkret agar Jalan Panglima Sudirman layak disebut kawasan pedestrian yang aman, nyaman, dan indah.

Reporter : Basudewo 

Posting Komentar

0 Komentar