![]() |
| Foto papan informasi |
Pati,suakaindonesia.com — Harapan warga Dukuh Asemlegi, Desa Mangunlegi, Kecamatan Batangan, memiliki jalan yang mulus dan awet seolah belum lama terwujud, kini mulai memudar. Proyek pengaspalan yang baru saja rampung justru langsung menjadi sorotan karena sejumlah titik permukaan jalan sudah tampak rusak, mengesampingkan fakta bahwa pekerjaan tersebut belum lama diresmikan.
Keresahan warga kian memuncak setelah beredar informasi bahwa anggaran yang digelontorkan untuk proyek tersebut mencapai angka sekitar Rp100 juta. Nilai yang tidak sedikit itu membuat masyarakat bertanya-tanya: mengapa hasilnya terlihat rapuh dan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan?
“Kalau benar anggarannya sekitar Rp100 juta dan baru selesai, tapi sudah mulai rusak, tentu kami berharap ada penjelasan dari pihak desa,” ungkap seorang warga setempat dengan nada kecewa.
Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Mereka mempertanyakan apakah pelaksanaan pekerjaan telah benar-benar mengikuti standar yang ditetapkan — mulai dari spesifikasi teknis, ketebalan lapisan aspal, kualitas material, hingga volume pekerjaan yang dikerjakan.
Tidak hanya kualitas fisik, transparansi pengelolaan keuangan pun menjadi sorotan. Warga menginginkan kejelasan terbuka: dari mana sumber dana tersebut berasal, berapa rincian Rencana Anggaran Biaya (RAB), berapa panjang dan lebar jalan yang sebenarnya dikerjakan, siapa pelaksana pekerjaannya, serta apa spesifikasi teknis yang menjadi acuan.
“Pembangunan ini menggunakan uang yang seharusnya diperuntukkan bagi kepentingan kita bersama. Maka hasilnya pun harus berkualitas dan tahan lama, bukan sekadar tampil bagus sebentar lalu rusak,” ucap warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, nilai anggaran sebesar Rp100 juta serta penyebab kerusakan dini pada permukaan jalan tersebut belum mendapatkan penjelasan resmi dari Pemerintah Desa Mangunlegi maupun pihak pelaksana pekerjaan.
Publik pun menunggu kejelasan: apakah kerusakan ini murni akibat kualitas pengerjaan yang belum memenuhi standar, atau ada faktor lain yang menjadi penyebabnya? Suara warga telah disampaikan, kini transparansi dan tanggung jawab yang diharapkan menjadi jawaban paling mendesak.
redaksi

0 Komentar