![]() |
| Gambar Pendopo Kabupaten Pati |
Pati,suakaindonesia.com - Sejak lama, tanah Pati bukanlah wilayah yang mudah dikuasai. Di pesisir utara Jawa, masyarakat Pati tumbuh dengan jiwa mandiri dan keberanian mempertahankan tanah air mereka. Ketika Kesultanan Demak berusaha menancapkan pengaruhnya, rakyat Pati tidak diam. Mereka menolak beban upeti dan pajak hasil bumi yang memberatkan. Perlawanan muncul karena mereka hanya ingin menjaga Pati tetap berdiri di atas kaki sendiri, bukan menjadi bawahan yang diperas.
Kemudian datang Mataram. Awalnya sempat menjadi sekutu, hubungan itu berubah ketika Mataram memperluas kekuasaan. Adipati Pragola I dan kemudian Pragola II bangkit melawan. Mereka mengangkat senjata bukan karena haus kuasa, melainkan karena menolak dikuasai. Pati menuntut hak atas wilayah di utara Pegunungan Kendeng dan menolak upeti yang terlalu berat. Perang pun berkobar. Meski Mataram lebih besar, semangat perlawanan Pati tercatat dalam sejarah sebagai bukti bahwa rakyat di sini tidak mudah tunduk. Mereka berani menghadapi kerajaan besar demi mempertahankan martabat dan kedaulatan tanahnya.
Jiwa itu terus hidup. Dari zaman kerajaan hingga kolonial, dari Samin Surosentiko yang menolak pajak Belanda hingga perlawanan modern di Pegunungan Kendeng, orang Pati selalu menunjukkan satu hal: mereka tidak takut melawan siapa pun yang berlaku semena-mena.
Pada tahun 2025, semangat itu muncul kembali. Kali ini lawannya bukan kerajaan Demak atau Mataram, melainkan seorang pemimpin lokal yang oleh rakyat disebut “Dewo”. Ia datang dengan kekuasaan yang baru saja digenggam, namun cepat menunjukkan sikap yang dianggap sombong dan sewenang-wenang. Kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan hingga 250 persen menjadi pemicu. Meski kemudian dibatalkan, luka sudah terbuka. Pernyataan yang terkesan menantang rakyat, serta serangkaian kebijakan lain yang dinilai tidak memikirkan nasib warga, membuat kemarahan memuncak.
Rakyat Pati yang biasa diam akhirnya bangkit. Mereka berani memberontak terhadap “Dewo”. Bukan hanya menolak pajak, mereka menuntut agar pemimpin yang dianggap membangun “kerajaan” dengan kesombongan itu diturunkan. Puncaknya terjadi pada 13 Agustus 2025. Ribuan orang memenuhi Alun-Alun Pati dan kawasan Pendopo Kabupaten. Spanduk-spanduk tuntutan turun berkibar. Orasi bergema. Suara massa memenuhi udara: turunkan Dewo.
Hari itu menjadi simbol. Seperti nenek moyang mereka yang dulu berani melawan Mataram dan Demak, generasi 2025 berani melawan kesewenangan di depan mata. Mereka tidak ingin Pati dikuasai oleh siapa pun yang melupakan rakyat. Aksi itu menjadi puncak perlawanan, dan pada akhirnya Dewo harus turun dari kursi kekuasaan yang ia bangun dengan kesombongan.
Sejarah Pati mengajarkan satu pelajaran yang terus berulang: tanah ini tidak mudah ditundukkan. Siapa pun yang datang dengan kekuasaan tanpa menghormati rakyat, pada akhirnya akan menghadapi perlawanan. Dari zaman kerajaan hingga 13 Agustus 2025, semangat itu tetap sama Pati untuk rakyat Pati.
Ditulis oleh Bambang Basudewo

0 Komentar