![]() |
| Foto Bambang Basudewo |
Pati,suakaindonesia.com - Ada stereotip yang sering melekat pada diri wartawan, paginya bisa sarapan bareng pejabat, siangnya bisa duduk bersama anak jalanan dan pengemis, sorenya bisa berbincang dengan tokoh agama, dan malam harinya bisa bertemu dengan perempuan pekerja malam di kafe kafe maupun di lokalisasi. Sebagian orang memandangnya sinis, seolah wartawan hanya pandai “numpang enak” di berbagai kalangan. Padahal, justru di situlah esensi profesi ini. Seorang wartawan adalah makhluk sosial yang harus mampu bergerak di semua lapisan masyarakat.
Seorang wartawan tidak dilahirkan untuk hanya bergaul di satu kalangan. Ia harus bisa masuk ke ruang pejabat untuk mendapatkan kebijakan dan keputusan resmi. Ia juga harus sanggup duduk di pinggir jalan bersama anak jalanan dan pengemis agar memahami realitas hidup orang kebanyakan. Di sore harinya, ia bisa mendengarkan pandangan tokoh agama untuk menangkap dimensi moral dan spiritual sebuah isu. Dan di malam harinya, ia tidak enggan bertemu dengan mereka yang hidup di pinggiran termasuk perempuan pekerja malam karena suara mereka pun bagian dari masyarakat yang berhak didengar.
Semua pertemuan itu bukan tanpa tujuan. Setiap percakapan, setiap pandangan sorot matanya merupakan pengamatan, dan setiap interaksi adalah bahan mentah. Dari situlah wartawan menggali fakta, menangkap nuansa, memahami konteks, lalu mengemasnya untuk di olah menjadi narasi yang utuh. Baru setelah melalui proses verifikasi, analisis, dan pertimbangan etika, informasi tersebut disajikan kepada publik sebagai berita.
Inilah yang membedakan wartawan dengan sekadar “pengamat sosial” atau “teman nongkrong”. Ia tidak berhenti di tahap bergaul. Ia membawa pulang data, lalu mengolahnya dengan tanggung jawab, dan menyajikannya agar masyarakat mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, bukan hanya versi resmi dari atas atau keluhan dari bawah saja.
Tentu, kemampuan bergaul lintas kelas ini harus diimbangi dengan integritas. Kedekatan dengan pejabat tidak boleh membuatnya kehilangan sikap kritis. Empati terhadap rakyat kecil tidak boleh berubah menjadi keberpihakan membabi buta. Dan pertemuan dengan siapa pun di malam hari harus tetap dalam koridor profesional, bukan personal.
Pada akhirnya, wartawan yang baik bukan yang hanya bisa duduk nyaman di satu meja. Ia adalah mereka yang sanggup berpindah dari satu dunia ke dunia lain, mendengar banyak suara, lalu merangkainya menjadi informasi yang adil dan bermanfaat. Karena berita yang utuh hanya bisa lahir dari mereka yang berani dan mampu menjadi bagian dari seluruh lapisan masyarakat—bukan hanya sebagian kecilnya.
Penulis Bambang Sutrisno

0 Komentar